Amalan Ilmu Hikmah – Hizib Kaf 40

Posted on

Sebagai salah satu ilmu yang bernafaskan ilmu hikmah maka kaf 40 ini juga mempunyai syarat syarat bagi orang yang akan mengamalkannya, Ilmu Hikmah bukan ilmu sembarangan dan tidak mungkin bisa dikuasai oleh orang-orang yang berniat jahat ,diantara syaratnya sebagai berikut :

1.Seorang Muslim

Karena kaf 40 adalah salah satu ilmu spiritual yang berkembang di kalangan umat islam, maka amalan kaf 40 ini hanya bisa di amalkan oleh orang yang beragama Islam. Seseorang disebut beragama Islam adalah orang yang meyakini rukun islam dan rukun iman.

Rukun islam adalah mengucapkan kalimat Syahadat dengan penuh keyakinan, menjalankan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

Sedangkan rukun iman termasuk adalah Iman kepada Allah, Iman kepada malaikat-malaikat Allah, Iman kepada kitab-kitab Allah, Iman kepada rasul-rasul Allah, Iman kepada hari kiamat dan Iman kepada Qada dan Qadar.

2. Sudah Mendapat Ijin Pengamalan Dari Guru

Proses pengijazahan itu penting sebab di situ terletak keberkahan dari ilmu hikmah yang hendak kita amalkan. Banyak sudah contoh nyata dalam kehidupan, dimana orang belajar ilmu hikmah secara mandiri tanpa bimbingan guru, yang didapatkannya adalah kesia-siaan.

Yang tujuannya adalah peresmian bahwa seorang murid mendapat restu dari seorang guru untuk mulai mengamalkan suatu ilmu hikmah.

Proses ijazah ini bisa macam-macam caranya sesuai dengan kebijaksanaan guru masing-masing. Ijazah atau proses penurunan ilmu bisa secara langsung maupun jarak jauh.

Anda bisa saja belajar ilmu hikmah dari berbagai buku yang beredar bebas di toko buku, atau dari artikel-artikel di internet yang tidak jelas siapa pembuatnya.

Namun perlu diingat, bahwa belajar ilmu hikmah tidak sama seperti belajar ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah. Dalam ilmu hikmah diperlukan keberkahan agar amalan ilmu bermanfaat.

3. Bersedia Mematuhi Dan Menjalankan Pertunjuk Yang Di Berikan Guru

Dalam belajar ilmu hikmah, ada ungkapan “samikna wa atha’na” yang artinya kami mendengarkan dan kemudian kami menaati. Tidak wajar apabila dalam belajar ilmu hikmah ada perdebatan atau adu argumentasi.

Ketika Anda sudah memutuskan untuk belajar ilmu hikmah kepada seorang guru, maka ikutilah ajaran guru itu dengan penuh tawaduk. Dengan catatan, selama ajaran guru itu tidak bertentangan dengan syariat agama.

4. Istiqamah Dan Bersungguh Sungguh Dalam Pengamalannya

Jangan kagum dengan orang yang seolah-olah mengerti banyak ilmu hikmah, namun dalam kesehariannya dia jarang duduk berdzikir untuk mengamalkan amalan ilmu hikmahnya. Namun kagumlah dengan orang yang tidak banyak bicara, namun punya amalan yang istiqomah walaupun hanya sedikit.

Tidak ada ilmu hikmah yang lebih hebat dari ilmu hikmah yang lainnya, bila tidak diamalkan dengan istiqomah. Jangan terlena untuk “mengoleksi” pengetahuan tentang ilmu hikmah, karena ilmu hikmah bukan sekedar pengetahuan.

Ilmu Hikmah adalah pengetahuan yang disertai amal perbuatan yang nyata. Dan amal yang terbaik adalah amal yang istiqomah.

Istiqomah adalah melakukan suatu amalan secara kontinyu dengan disertai keimanan dan kesungguhan terhadap apa yang diamalkannya. Beberapa ulama ahli hikmah berpendapat bahwa “istiqomah lebih baik dari 1000 karomah”. Hal ini karena Istiqomah adalah pohonnya, sedangkan karomah hanyalah salah satu buah daripada istiqomah.

5. Selalu Menjaga Diri Dari Makanan Yang Haram

Disebutkan, setitik makanan yang haram memberikan efek terhadap kejernihan hati. Ibarat setitik tinta yang jatuh diatas kertas putih, semakin banyak unsur makanan haram yang masuk, ibarat kertas putih yang banyak ternoda tinta. Sedikit demi sedikit akan hitamlah semuanya.

Efek dari makanan yang haram ini menyebabkan jiwa sulit untuk diajak menyatu dengan hal-hal yang positif, seperti: dibuat zikir tidak khusuk, berdo’a tidak sungguh-sungguh, sulit istiqomah dan hati tidak tawakal kepada Allah.

Daging yang tumbuh dari makanan yang haram selalu menuntut untuk diberi makanan yang haram pula. Seseorang yang sudah terjebak dalam lingkaran ini sulit untuk melepaskannya, sehingga secara tidak langsung menjadikan hijab atau penghalang seseorang memperoleh getaran/ cahaya ilahiah.

Jadi Seseorang yang ingin memiliki kekuatan batin yang bersumber dari energi ilahiah (ilmu hikmah) harus memperhatikan makanannya. Karena makanan yang haram akan mengotori hati nurani.

Makanan yang haram akan membentuk jiwa yang kasar dan tidak religius. Makanan yang haram disini bukan hanya dilihat dari jenisnya saja, misal babi, miras, bangkai dan sebagainya, tapi juga dari cara untuk mendapatkan makanan tersebut.

6.Selalu menjaga diri dari dosa besar

Hikmah suatu amalan (bacaan) biasanya terkait dengan perilaku manusianya. Dalam haditsnya Turmudzi meriwayatkan, “Seseorang yang mengucapkan Laa ilaha illallah dengan memurnikan niat, pasti dibukakan untuknya pintu-pintu langit, sampai ucapannya itu dibawa ke Arsy selagi dosa-dosa besar dijauhi”.

Hadits ini bisa ditafsirkan bahwa suatu amalan harus diimbangi dengan pengamalan. Adanya keselarasan antara ucapan mulut dengan tindakan menyebabkan orang itu mencapai hakikatnya “Kekuatan-Kesaktian”.

Menghindari dosa-dosa besar adalah salah satu upaya membersihkan rohani. Di mana secara umum kemudian dikenal pantangan Ma-Lima yaitu : Main, Madon, Minum, Maling dan Madat, yang artinya berjudi, zina, mabuk-mabukkan, mencuri dan penyalahgunaan narkotika.

Walau lima hal ini belum mencakup keseluruhan dosa besar tetapi kelimanya diyakini sebagai biang dari segala dosa. Judi umpamanya, seseorang yang sudah terlilit judi andaikan ia seorang pemimpin maka cenderung korup dan hanya kecil kejujuran yang masih tersisa padanya.

Seseorang yang sudah “Kecanduan” satu diantara yang lima perkara ini bukan hanya rendah dipandang Allah, di pandangan manusia biasa pun ikut rendah. Nurani yang kotor menyebabkan do’a-do’a tidak terkabul.

Kesimpulan:
Dengan mengamalkan sebuah atau beberapa amalan ilmu hikmah dengan memenuhi beberapa syarat syarat di atas maka Insya Allah menjadikan manusia “Sakti” Dunia Akhirat.
Getaran batinnya kuat, ibarat voltage pada lampu yang selalu di tambah getarannya sementara kaca yang melingkari lampu itu pun selalu dibersihkan melalui laku-laku yang positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *